Koran New York Times Sentil RI Dalam Menangani Pandemik Covid-19

Koran New York Times Sentil RI Dalam Menangani Pandemik Covid-19

Koran New York Times Sentil RI Dalam Menangani Pandemik Covid-19

Koran New York Times Sentil RI Dalam Menangani Pandemik Covid-19 – Pandemi adalah epidemi penyakit yang menyebar di wilayah yang luas, misalnya beberapa benua, atau di seluruh dunia. Penyakit endemik yang meluas dengan jumlah orang yang terinfeksi yang stabil bukan merupakan pandemi. Kejadian pandemi flu pada umumnya mengecualikan kasus flu musiman. Sepanjang sejarah, sejumlah pandemi penyakit telah terjadi, seperti cacar (variola) dan tuberkulosis. Salah satu pandemi yang paling menghancurkan adalah maut hitam, yang menewaskan sekitar 75–200 juta orang pada abad ke-14.

Harian ternama asal Amerika Serikat, New York Times, menyentil keras penanganan pandemik COVID-19 di Indonesia, khususnya obat-obatan yang diklaim bisa sembuhkan COVID-19. NYT memberi judul “In Indonesia, False Virus Cures Pushed By Those Who Should Know Better“, yang artinya kurang lebih obat yang diklaim bisa sembuhkan virus justru dipromosikan oleh pihak-pihak yang seharusnya lebih paham dan mengandalkan download open card asia penelitian saintifik.

Beragam produk yang disebut oleh NYT yakni mulai dari kalung antivirus, arak Bali hingga penggunaan niqab yang dapat menutupi sebagian wajah. Situasi itu diperparah dengan kelakuan beberapa individu yang menyebutkan diri mereka sebagai influencer, dan ikut menyebarluaskan informasi keliru mengenai kemanjuran produk-produk tersebut. Hal lain yang disorot NYT yakni ketika transmisi kasus COVID-19 di Indonesia telah melampui Tiongkok – negara pertama yang melaporkan kasus virus corona – warga RI makin terkesan cuek. Di daerah-daerah yang masuk zona merah, 70 persen warga justru absen memakai masker dan mengabaikan imbauan pemerintah untuk menjaga jarak. Bahkan, warga sudah mulai kembali nongkrong di pusat perbelanjaan dan kafe, kendati angka COVID-19 terus melonjak naik.

1. NYT sebut sejak awal Indonesia tak memiliki rencana aksi yang jelas untuk lawan COVID-19

img 20200614 wa0015 1483ebd0bdb47daf4401063e024314ac - Koran New York Times Sentil RI Dalam Menangani Pandemik Covid-19

Dalam tulisannya, Richard C. Paddock menilai, bukan Indonesia saja yang menangani pandemik COVID-19 dengan informasi yang keliru. Mereka mencontohkan Presiden Donald Trump yang malah mempromosikan obat antimalaria sebagai pengobatan yang efektif untuk membunuh COVID-19. Ia bahkan sempat menyarankan agar tenaga medis langsung menyuntikan cairan disinfektan ke tubuh pasien agar virus bisa langsung mati.

Namun, Indonesia tergolong unik karena memiliki populasi yang besar, area geografis kepulauan, dan beragam kebudayaan. Hal ini menyebabkan Pemerintah Indonesia kesulitan untuk menerapkan kebijakan seragam dan jelas dalam melawan pandemik COVID-19. Situasi itu semakin memburuk karena adanya informasi keliru yang di sebarluaskan.

Hal lain yang menyebabkan Indonesia lambat menangani pandemik, kata Paddock, karena Presiden Joko “Jokowi” Widodo sempat menganggap enteng COVID-19. Bahkan, ia kerap menyampaikan informasi yang keliru ke publik.

Pada Maret lalu, Jokowi akui sengaja tidak membuka data mengenai jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pengawasan (ODP). Hal itu, kata Jokowi, bertujuan mencegah kepanikan di publik. Meski pada akhirnya data itu kemudian di ungkap.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga sempat menutup sementara waktu perkantoran, sekolah, dan pusat perbelanjaan lewat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tetapi, kebijakan itu lambat di putuskan. Di sisi lain, ia cepat ketika memutuskan perekonomian harus kembali di buka meski kasus COVID-19 masih tinggi.

Pada Mei lalu, Jokowi menyampaikan pernyataan kontroversial agar publik belajar hidup berdampingan dengan virus corona. Kalimatnya ketika itu yakni agar berdamai dengan COVID-19. Lalu, ia tiba-tiba mengancam untuk memecat para menterinya karena tidak becus mengendalikan pandemik.

Sementara, pada Juli lalu, ia menyerukan kampanye agar publik lebih disiplin melakukan protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak, dan mencuci tangan.

2. NYT menyoroti Mentan yang memiliki gelar doktor malah mempromosikan kalung antivirus

antarafoto dpr mentan 070720 ak 5 54b1963a862da663eddcc876470f9bf3 - Koran New York Times Sentil RI Dalam Menangani Pandemik Covid-19Hal lain yang disoroti oleh salah satu koran terbesar di AS itu, yakni kelakuan Menteri Pertanian yang mempromosikan kalung dari bahan eucalyptus (kayu putih) yang disebut bisa menghalau COVID-19. Bahkan, ia tak segan memakainya ketika tengah rapat di gedung parlemen Senayan bersama Komisi IV DPR.

Informasi lainnya di sampaikan oleh Gubernur Bali I Wayan Koster, yang menyampaikan ke publik cara bisa sembuh dari COVID-19 dengan menggunakan metode tradisional. Caranya dengan mengirup uap arak Bali yang telah di rebus. Arak di kenal di Bali sebagai minuman tradisional yang mengandung alkohol dan dapat membuat orang mabuk.

Metode itu belum di uji secara klinis, tetapi ia berharap cara tersebut bisa di patenkan di Bali dan segera diproduksi massal.

3. NYT kutip pendapat JK yang menilai RI lambat merespons karena Menkes sempat anggap enteng

whatsapp image 2020 07 21 at 11326 pm c9c52478f2a96f866cd5f32f11edffa4 - Koran New York Times Sentil RI Dalam Menangani Pandemik Covid-19

NYT juga mengutip pendapat mantan wakil presiden Jusuf “JK” Kalla, yang menilai pandemik COVID-19 di Indonesia lambat di tangani karena Menkes Terawan Agus Putranto juga menganggap enteng virus tersebut. Bahkan, ia sempat menyampaikan Indonesia kebal dari COVID-19.

4. Jubir pemerintah minta warga tak mempercayai rumor atau takhayul untuk melawan COVID-19

whatsapp image 2020 05 09 at 133838 2 d72bf6e2945123084bc26c38ba3fae43 - Koran New York Times Sentil RI Dalam Menangani Pandemik Covid-19

Di sisi lain, jubir pemerintah yang baru untuk penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito, mengimbau masyarakat agar terus mematuhi protokol kesehatan. Ia juga meminta agar publik tidak percaya begitu saja rumor mengenai pengobatan tertentu, bahkan bila metode itu di sampaikan pejabat publik dan selebriti.

5. Juru wabah UI mendesak penanganan pandemik langsung di ambil alih presiden, bukan komite

Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Dr. Pandu Riono, mengaku tidak terkejut dengan tulisan yang di muat oleh NYT. Sebab, sejak awal Pemerintah Indonesia memang tak punya rencana aksi nasional dalam menangani pandemik COVID-19.

Tetapi, bila menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketika angkanya telah menembus 100 ribu, juga mustahil. Oleh sebab itu, Pandu menyarankan agar penanganan pandemik COVID-19 langsung di ambil alih presiden. Jangan lagi penanganan pandemik di pimpin oleh komite yang sifatnya ad-hoc atau sementara.

Ia menduga selama ini penanganan pandemik COID-19 sengaja di bebankan tanggung jawabnya ke komite atau satgas tertentu, demi melindungi Presiden Jokowi.

Comments are closed.